Jumat, 14 Januari 2011

Bangun Tidur Ku Terus . . . .

Pagi itu tiba setelah ku terlelap tidur semalam penuh, satu demi satu teman-teman pun ikut terbangun karena sang mentari telah menunjukan senyum indahnya, setelah kita terbangun semua dari masing-masing tidur panjangnya, kita semua memulai aktifitasnya, kita sebut saja akel namanya, dia teman ku yang ikut tersingkirkan akibat kejamnya masa kepemimpinan Feodal saat itu, kemudian ada juga dadang sang pemilik rumah, dan Topik yang tuan rumah.
Hanya, sayangnya satu lagi teman kita pulang kampung karena kehabisan uang, isman namanya, kita disini semua sama-sama sang perindu kebenaran yang tertindas akibat dari kepemimpinan Feodal waktu itu.
Kemudian akel memulai aktifitasnya dengan membersihkan Majic kom, di waktu yang sama pula dadang sibuk dengan Hp nya karena dia bingung akibat dari persaingan media komunikasi dampaknya dia mendapatkan sms gratis 60 tiap hari, dia bingung harus kemana menghabiskiskan sms itu, emang sih bukan hanya dadang yang merasakan resah gelisah karena sms grtis kita semua merasakannya tapi hanya dadang yang sangat menunujkan kegelisahannya itu, kemudian karena akel telah selesai membersihkan majic kom akhirnya akel ngajak dadang untuk mengambil beras akhirnya dadang yang masih di rumuni rasa resah gelisah karena sms nya dengan penuh keterpaksaan menuruti ajakan akel karena akel mengajak ngambil beras ke rumah neneknya adang, Oh ya di sini juga ada yang berperan yaitu sang nenek dengan keluarganya yang baik hati, hampir tiap hari nenek memberi kita makan (untuk cerita nenek kita potong sampai disini)
Dan aku sendiri masih tiduran sambil menunggu teman-temanku ambil beras, akhirnya karena lama tunggu mereka memulai pulalah ku beraktifitas, diawali dari memandang kamarku yang baru akhirnya datang inisiatif untuk nyapu rumah dan topik nyanyi-nyanyi sambil bingung cari Frekwensi di radio kesayangannya yang setiap malam menemani tidurnya dan malam tadi pun radio itu yang membawa aku tidur dalam mimpi indah karena alunan musik Iwan Fals yang keluar dari radio itu, akhirnya dengan penuh rasa kecewa pada diri topik karena tidak menemukan acara radio yang sesuai keinginanya, dan topik memutuskan untuk memilih salah satu frekwensi radio yang walaupun acaranya tidak disukai.
Tak lama berselang waktu kemudian dadang dan akel pulang dari tugas sucinya ambil beras dan bawa buah rambutan satu karena sebelumnya aku sms supaya sekalian bawa rambutan 5, ya walaupun Lima itu berubah menjadi satu tak apalah yang penting ada niatan baik dari dadang untuk bawa rambutan, karena keyakinanku dengan rambutan dengan jumlah yang lebih banyak dari satu akhirnya ada anak kecil yang tak tau namanya siapa kira-kira dia masih duduk di kelas lima SD (sekolah Dasar) bawa rambutan dengan jumlah yang banyak dan akhirnya pun aku memdapatkan rambutan lebih banyak, ya walaupun masih kurang dari lima tapi lebih dari satu. Ternyata benar juga ya dengan slogan Yakin usaha sampai
Masih di pagi itu juga kemudian akel mulai menanak nasi dari hasil beras yang ia minta dari sang nenek, dan dadang sibuk mencari cara untuk bagaimana caranya mendapatkan lauk pauk untuk makan pagi ini karena kita tidak mau selalu merepotkan nenek akhirnya masak sendiri, Karena aku masih punya uang Rp.5000 akhirnya dadang minta untuk beli lauk pauk buat makan pagi ini walaupun kita tidak tau nanti siang nanti sore dan nanti besok kita masih bisa makan atau tidak tapi karena kita terlahir dari kata yakin usaha sampai akhirnya kita semua yakin kalau nanti kita masih bisa makan.
Sambil menungu nasi matang, akel pun memandang kamar yang akan ia tempati dan kemudian membersihkan pecahan kaca yang kemarin pecah karena terkena angin kencang. Walaupun tidak akel sapu dengan alasan kalau kamar itu masih bersih dan kemudian setelah pecahan kaca itu bersih, kemudian akel membereskan tempat yang akan ia tempati nanti dengan merapihkan kasur lantai di atas bale-bale (Amben). Tidak lama kemudian akel pun selesai membereskan kamar yang akan ia tempati. Akel pun mendengar suara Dadang yang menyuruhnya membeli lauk pauk dengan topik.
Namun anehnya, Dadang yang meminta uang pada ku itu, dia mau beli sendiri, namun ternyata ia malah nyuruh orang lain lagi, mungkin ini semua karena ia terlalu pusing dengan sms gratisnya dan juga pusing berfikir dengan berbagai permasalahan yang menghinggapinya seperti, organisasi, keluarga, pacar dan yang lainnya, sehingga dia sedikit terlihat sesekali kaya orang kebingungan. Sebanarnya kami beruntung berada di pada orang-orang ini, dimana sekalipun kita merasa sedih dan susah kita tetap ketawa dan selalu bergembira, karena kami memang suka bercanda dalam kondisi apapun.
Setelah nasi itu matang tak lama kemudian akel dan topik pun datang dengan membawa lauk pauk dan mulailah kita makan dengan nasi yang aga mirip bubur, tak tau kenapa nasi itu bisa jadi seperti itu, dengan penuh obrolan sambil makan dan tak jauh pula obrolannya tentang organisasi yang menurut kita perlu diperbaiki lagi, yak arena sayangnya dan merasa memilikinya sehingga bahasan kita tidak jauh dari itu.
Inilah cerita kita pagi itu semoga saja untuk kedepannya, untuk pagi-pagi berikutnya nasib kita lebih baik dari pagi ini dan persahabatan ini akan terus terjaga sampai kelak nanti…

Siapakah Yang Bersalah Pada Peristiwa Malari?

Dari berbagai sumber.

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah Peristiwa demontrasi Mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1974
Peristiwa ini terjadi pada saat Perdana Mentri (PM) Jepang berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Jakarta 14 – 17 Januari 1974. Mahasiswa menyambut kedatangan perdana mentri Jepang saat itu Kaukei Tanaka dengan meluncurkan demontrasi di Pangkalan udara Halim Perdana Kusuma yang sebelumnya Ribuan Mahasiswa berunju krasa dari kampus Universitas Indonesia ke Universitas Trisakti, unjuk rasa itu terjadi karena Mahasiswa menolak permodalaan asing terutama Permodalan dari Jepang. Karena pada saat mahasiswa berdemontrasi Ke pangkalan Udara dan pangkalan udara itu di jaga dengan sangat ketat akhirnya rombongan demonstran tidak bisa masuk menerobos Pangkalan udara.
Tanggal 15 Januari 1974 Pukul 08.00 WIB Perdana Mentri Jepang berangkat dari istana Negara tidak menggunakan mobil akan tetapi diantar langsung oleh Presiden Soeharto dengan menggunakan Helikopter dari Bina Graha ke pangkalan Udara, pada saat itu suasana kota Jakarta masih tegang dan mencekam.
Peristiwa itu terjadi seiring dengan pengrusakan beberapa tempat di Jakarta, tempat – tempat tersebut dibakar dan di jarah masa, belasan orang tewas ndi tembak dan ratusan orang luka-luka. Ratusan kendaraan buatan Jepang Di bakar habis sampai hangus. Keesokan ketua dewan mahasiswa Universitas Indonesia ditangkap kopkatib diikuti dengan penagkapan ratusan orang lainnya, akan tetapi hanya tiga aktifis yang dilanjutkan proses hukumnya sampai ke meja Hijau, dari ketiga aktifis itu dituntut hukuman 2 sampai 4 tahun kurungan. Sementara puluhan tokoh lainya ditahan selama satu hingga dua tahun.
Usai terjadinya demontrasi yang disertai kerusuhan sehingga terjadinya pembakaran-pembakaran dan penjajahan itu Soeharto memberhentika Soemitro sebagai panglima Kopkamtib dan Soeharto pun langsung mengambil alih jabatan itu.
Dalam peristiwa itu Jendral Ali moertopo menuduh mantan PSII dan Masyumi adalah dalang dari kejadian Malari itu, tetapi setelah tokoh peristiwa malari di adlili tidak ada pembuktian yang mengarah kalau dalang dari semua itu adalah mantan PSII dan Masyumi, malah belakangan ada stetmen dari jendral Soemitro kalau dalang dari semua itu adalah Ali moertopo sendiri dan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.
Pada saat Tragedi malari terjadi banyak hal-hal yang terjadi dimulai dari penembakan, penyiksaan orang, pengrusakan dan penjarahan. Dimulai dari pengrusakan pabrik dan pasilitas lainnya dan penjarahan emas yang sampai 160 kg Emas.
Lalu siapa yang berperan sebagai dalang dari semua ini? Tepat 15 januari 2010 peristiwa Malari tepat di 37 Tahun peristiwa tersebut terjadi salah satu aktifis Malari hariman siregar masih tetap sehat dan tetap menjadi aktifis pinggiran yang tidak mendapatkan posisi apapun di pemerintahan, dia tetap kritis terhadap kontrol sosial. Sekarang apakah ada tragedi yang menyamai malari ataukah para insan akademis saat ini mulai melupakan terhadap tragedi itu.

Kamis, 06 Januari 2011

Mahasiswa dan. . .


Mahasiswa,
            Sekumpulan anak muda sebagai “agent of change” .Agen perubahan dari sebuah budaya. Jika kita melihat situasi sekarang ini, mahasiswa lebih banyak mendapat cap negatif, dari yang sukanya demo hingga memacetkan jalan, sambil bakar ban pula, bikin polusi udara, sudah gitu bikin roda ekonomi rakyat jadi tersendat. Kenyataan diatas tidak dapat kita ingkari, karena memang telah terjadi pergeseran sosiologis dinamika kemahasiswaan saat ini dari akar sejarahnya.

Sejarah mencatat betapa heroiknya peran-peran mahasiswa pada beberapa dekade sebelum saat ini. Berbagai rezim di berbagai belahan bumi menjadi “korban” idealisme yang digusung oleh mereka, atas nama kepentingan dan kemashlahatan rakyat banyak. Di Indonesia kita kenal Soe Hok Gie , Soe Hok Gie merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pergerakan mahasiswa tahun 1960 an. Seorang aktivis yang selalu menyuarakan perlawanan terhadap tindakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, melakukan aksi demonstrasi di jalan ? jalan sebagai sebuah bentuk perlawanan beliau terhadap kebijakan pemerintah di zamannya, sayang Gie terperangkap gas beracun di sebuah puncak pegunungan dalam perjalanan alam yang menyebabkan beliau mati muda. Soe Hok Gie merupakan sebagian kecil dari sebuah bentuk peran mahasiswa/kaum terpelajar melawan realitas yang bertentangan dengan idealnya. Tetapi pada hari ini mulut yang menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada rakyat hilang bagaikan di telan bumi seiring dengan pengaruh globalisasi dan makin timbulnya sifat induvidualistis manusia dalam berinteraksi, sehingga masyarakat bersifat apatis terhadap perubahan sosial yang terjadi.
Saat ini di tiap kampus kita bisa mengidentifikasikan ada 5 tipe mahasiswa dalam menghadapai perubahan sosial .ekonomi , politik dan budaya yang ada disekitar lingkungannya. Pertama adalah kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup yang glamaur ,dan suka menghambur-hamburkan uang orang tuanya ,dan kelompok ini terasa paling banyak pada komposisi mahasiswa saat ini, Kedua adalah kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kita sering menyebutnya SO (study Oriented). Ketiga kelompok opurtunis adalah mahasiswa yang cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa . Kempat ,kelompok idealis realistis adalah mahasiswa yang memilih cara moderat dalam berjuang menentang pemerintah dan yang terakhir adalah kelompok idealis konfrontatif, dimana mahasiswa tersebut aktif dalam perjuangannya menentang pemerintah yang menyiksa rakyatnya. Pertanyaannya sekarang adalah di kelompok mana kita bisa dimasukan?
Terlepas dari kondisi kampus kita saat ini. Mari kita songsong hari esok dengan secercah cahaya dan mimpi. Seperti kata Giring Nidji “ Mimpi adalah kunci “ maka bermimpilah jika ingin mendapat kunci keberhasilan. Sosok Gie ini dapat di jadikan sebagai inspirasi untuk melawan segala macam bentuk penindasan dan tidak keberpihakan birokrasi kepada rakyat. Reformasi 1998 adalah contoh usaha kongkrit mahasiswa untuk mencoba melakukan perubahan bangsa, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kondisi reformasi pada hari ini yang bisa dikatakan ‘gagal’ untuk membuat perubahan bangsa yang kita inginkan.
Gerakan mahasiswa pada tahun 1998 merupakan sebuah gerakan yang didahului latar belakang krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berlanjut menjadi krisis multi-dimensi, sebuah usaha perubahan sosial yang dimotori oleh gerakan mahasiswa yang didukung oleh kesadaran bersama dari para mahasiswa. Momen ini kemudian berkembang menjadi suatu gerakan bersama yang menuntut perubahan dibeberapa bidang, khususnya sistem pemerintahan. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mahasiswa dalam mengusung perubahan sosial tersebut?
Dalam ilmu politik dikenal beberapa pandangan mengenai perubahan sosial . Pandangan pertama menjelaskan bahwa gerakan sosial itu dilahirkan oleh kondisi yang memberikan kesempatan (political opportunity) bagi gerakan itu. Pemerintah yang moderat, misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial ketimbang pemerintahan yang sangat otoriter. Kendala untuk membuat gerakan di negara yang represif lebih besar dibandingkan dengan negara yang demokrat. Sebuah pemerintahan negara yang berubah dari represif menjadi moderat terhadap oposisi, menurut pandangan ini, akan diwarnai oleh lahirnya berbagai gerakan sosial yang selama ini terpendam di bawah permukaan.
Pandangan kedua berpendapat bahwa gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, misalnya, dapat mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang makin lebar untuk sementara antara yang kaya dan yang miskin. Perubahan ini dapat pula menyebabkan krisis identitas dan lunturnya nilai-nilai yang selama ini diagungkan. Perubahan ini akan menimbulkan gejolak di kalangan yang dirugikan dan kemudian meluas menjadi gerakan sosial. Pandangan ketiga beranggapan bahwa gerakan sosial adalah semata-mata masalah kemampuan (leadership capability) dari tokoh penggerak. Adalah sang tokoh penggerak yang mampu memberikan inspirasi, membuat jaringan, membangun organisasi, yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam gerakan tersebut. Lalu bagaimana dengan reformasi ‘98?
Sebelum masa reformasi indonesia sudah terbelit masalah ekonomi yang cukup pelik. Sehingga timbul ketidakpuasan atas situasi yang ada. Mahasiswa yang merasa sebagai garda depan rakyat, turun kejalan untuk melakukan aksi demonstrasi. Pada saat itu muncul conscience collective, kesadaran bersama dimana mahasiswa merupakan satu kelompok yang harus bersatu padu. Dalam kondisi perilaku kolektif, terdapat kesadaran kolektif dimana sentimen dan ide-ide yang tadinya dimiliki oleh sekelompok mahasiswa yang menyebar dengan begitu cepat sehingga menjadi milik mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah disambut oleh masyarakat yang menjadi korban dari sistem yang ada. Aksi dari mahasiswa kemudian direspon oleh masyarakat melalui secara sukarela memberikan bantuan kepada para mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.
Setelah melihat paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah suatu peran mahasiswa dalam perubahan sosial . dimana perubahan sosial tersebut diwujudkan dalam reformasi yaitu gerakan yang hanya bertujuan untuk mengubah sebagian institusi dan nilai. Namun ada kritik terhadap peran mahasiswa setelah reformasi bergulir yaitu mahasiswa melupakan banyak bidang lainnya yang seharusnya digarap pasca reformasi. Mahasiswa hanya mereformasi bidang pemerintahan saja, padahal jika kita mau melihat tujuan awal .maka seharusnya bidang lain juga harus diperhatikan.

Selasa, 28 Desember 2010

Tanam Padi Tumbuh Pabrik


Lumbung padi Jawa barat, itulah nama yang sering orang katakan untuk nama lain kabupaten Subang, Lahan pertanian yang luas, fasilitas yang mendukung seperti perairan yang memadai untuk bertani.
Bukan hanya dari segi Sumber daya alam yang mendukung untuk subang memiliki nama lain lumbung padi jawa barat akan tetapi program pemerintah daerah yang memiliki program dan harapan untuk membangun kabupaten subang menjadi pusat pertanian tingkat Jawa barat bahkan tingkat Nasional. Banyak program dan anjuran yang di rencanakan oleh pihak pemerintah daerah dibidang pertanian seperti anjuran atau ajakan pemerintah daerah kepada para petani untuk melaksanakan tanam padi secara serempak, cara produksi padi dan penanggulangan pasca panen sehingga para petani pun merasa gembira dengan adanya dukungan dari pihak pemerintah dengan adanya anjura itu, maka ketika tanam padi secara serempak panen pun akan serempak yang disebut dengan panen raya. Senyum gembira para petani terlihat pada raut wajahnya yang menunjukan kegembiraan itu
Akan tetapi program pemerintah hanya lah sebatas wacana pemerintah yang pada tararan implementasinya nol besar, kenapa bias dikatakan demikian?...
UU pertanahan Nasional mengatakan untuk lahan sawah teknis dilarang untuk dialih Fungsikan, akan tetapi hal ini lah yang terjadi di Kabupaten Subang, dahulu petani yang tersenyum ceria saat panen tiba akan tetapi saat ini hal tersebut akan sulit kita temui diwajah para petani, pasalnya sawah yang dulu dimiliki para petani lambat laun telah dialih fungsikan menjadi Pabrik, dahulu sawah yang ditanami padi kini mulai bertumbuhan pabrik, program pemerintah yang mengharapkan Subang menjadi daerah agribisnis sepertinya bohong besar karna hal itu hanya menjadi wacana yang basi, ironis wilayah yang sangat mendukung untuk dijadikan lumbung padi kini hal itu hampir hilang dengan alasan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Iya ketika kita berbicara masalah menyerap tenaga kerja yang lebih banyak tapi apakah tidak ada lahan lain yang bisa di bangun pabrik, jangan lahan sawah yang dijadikan korban untuk dibangun pabrik.
Semoga harapan subang masih ada untuk selalu menjadi lumbung padi Jawa Barat.
Oleh : Wahyu W *

Saatnya Petani Sejahtera


Kesejahteraan petani saat ini selalu menjadi buah bibir, hal ini disebabkan sangat jauhnya apa yang sudah dilakukan oleh petani dengan apa yang didapatkannya. Menghasilkan beras yang dikonsumsi oleh penduduk negeri ini, tapi dilihat tingkat kesejahteraannya, petani Indonesia sungguh memprihatinkan.
Bagaiman tidak memprihatinkan, hampir tidak ada keuntungan yang didapat, karena semuanya tersedot oleh para tengkulak, selain itu harga pupuk yang mahal dan tidak jelasnya harga gabah membuat semakin tersudutkannya para petani.
Selain itu, petani juga selalu dilihat sebelah mata oleh semua pihak termasuk didalamnya pemerintah yang hanya bisa mewacanakan masalah kesejahteraan petani, namun hingga kini bukan lah kesejahteraan yang didapat melainkan, sedikit-demi sedikit lahan pesawahan berganti fungsi menjadi pabrik-pabrik besar yang menghasilkan limbah-limbah, seperti yang terjadi di kabupaten Subang dan mungkin kabupaten-kabupaten yang lain.
Kabupaten Subang yang merupakan wilayah terbesarnya adalah wilayah pertaian, mestinya sudah bisa dikatakan maju, sebab sekitar 70% warga masyarakatnya merupakan petani, dari sana sudah semestinya masyarakatnya tidak ada yang nganggur.
Namun, semua itu ternyata hanya hitungan kasar yang hanya bisa membuat kita senang untuk sementara, karena pada kenyataanya dilapangan, petani yang benar-benar memiliki sawah tinggal sedikit, sekarang tanah petani sudah dimiliki oleh pemilik modal yang besar.
Penyakit yang biasa menghinggapi masyarakat untuk menjual tanahnya adalah kekurangan biaya hidup untuk keluarga karena panennya gagal, banyaknya hutang sama tengkulak yang memang menguasai penjualan dari petani.  
Intruksi Presiden (inpres) No 7 tahun 2009 tentang kebijakan perberasan mengenai ketentuan harga pembelian pemerintah dalam konteks gabah/beras. Mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tersebut, harga gabah kering panen adalah Rp. 2.640 dalam satu Kg nya, dan gabah kering giling adalah Rp.3.300 per Kg nya.
Sekarang ini, kondisi produksi gabah di Indonesia termasuk di kabupaten Subang merosot karena serangan hama. Namun, seharusnya harga gabah ini bukannya turun, akan tetapi seharusnya ditingkatkan. Dengan naiknya harga gabah ini petani tetap berharap agar kesejahteraan mereka pun ikut naik.
Selain serangan wereng yang menjadi ancaman petani, yang menyebabkan kesejahteraan petani tidak bisa naik ini adaah peranan tengkulak yang memang mengatur harga gabah di petani dengan tidak megikuti harga yang sudah diatur oleh Pemerintah.
Adanya Inpres akan harga jual gabah ternyata tidak disambut gembira oleh petani karena peranan tengkulak yang membeli hasil pertanian mereka tidak sesuai dengan harga yang telah diputuskan oleh pemerintah. Dalam hal ini pemerintah kurang mengakomodir hasil pertanian yang petani hasilkan. Alhasil gabah yang petani miliki mau tidak mau harus dijual kepada tengkulak, yang lebih disayangkan pemerintah kurang sigap dalam menangani tengkulak yang tidak mengikuti Inpres tersebut.
Melihat kondisi seperti itu, tentu dengan keluarnya inpres tidak menjadi solusi untuk menjadikan petani lebih sejahtera, selama ini produktifitas padi yang selalu petani usahakan agar produktifitasnya selalu meningkat ternyata tidak menjadikan kesejahteraan petani bisa lebih meningkat karena harga yang diterima petani relatif selalu lebih rendah.
Kenaikan HPP memang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani namun keraguan itu muncul ketika pemerintah kurang begitu serius dalam menangani hal yang mampu mengakat kesejahteraan petani ini.
Nilai tambah terbesar yang diterima rata–rata oleh pihak lain bukan oleh petani, melainkan oleh para tengkulak, penebas ataupun para pedagang bahkan Badan Urusan Logistik (Bulog) yang diberi amanah oleh pemerintah.
Harga hasil prtanian yang naik biasanya bukan dinikmati oleh petani itu sendiri akan tetapi lebih dinikmati oleh pedagang dan tengkulak. Seharusnya kondisi seperti ini sudah harus diperhatikan oleh pemerintah untuk selanjutnya melakukan gerakan nyata untuk menjungjung tinggi kesejahteraan petani.
Pembangunan pertanian sekiranya harus segera memfokuskan pada upaya-upaya dalam hal kesejahteraan petani, sebagai pelaku utama dalam pembangunan pertanian di Negeri ini petani harus selalu ditempatkan pada posisi pertama dalam setiap kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah bukan sebagai urutan kedua atau seterusnya yang keberadaanya selalu dirugikan dan cenderung di pandang sebelah mata.
Untuk mewujudkan semua harapan itu diperlukan keberpihakan dari pemerintah, baik moral maupun langkah politik yang tinggi dari semua penentu kebijakan yang akan mengarahkan kemana nasib petani akan dibawanya, misalnya kebijakan harga yang telah dituangkan dalam Inpres harus lebih di perhatikan dalam sisi kontrolnya, agar petani dapat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan kesejahtraannya pun diharapkan akan lebih naik lagi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh setiap pengambil kebijakan harus lebih tepat momentumnya.
Gabah hasil panen petani yang sebelum panen sudah dibeli oleh para penebas atau tengkulak petani sudah tidak dapan menikmatinya lagi, hasilnya ini menandakan bahwa keberpihakan komponen moral dan politik pengambil kebijakan belum bisa berpihak kepada para petani dan sangat masih kurang
Seharusnya kebijakan pemerintah harus dilakukan dengan dua kualitas bukan hanya satu kualitas seperti inpres no 7 Tahun 2009, Inpres tersebut tidak begitu mendorong kualitas gabah dan berasnya. Apabila kebijakan pemerintah mendorong dari dua kualitas selain harga yang ditentukan kualitas beras juga bisa lebih di perhatikan dan penjualan yang diharapkan untuk harga yang lebih tinggi bisa tercapai dan peningkatan kesejahteraan petani pun bisa meningkat.
Setelah para pengambil keputusan telah mampu mengeluarkan kebijakan yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani di harapkan bukan hanya dari segi pengambilan keputusan saja akan tetapi untuk tahap kontrol agar apa yang menjadi harapan petani bisa tercapai. Selain itu sarana produksi pertanian pun harus lebih diperhatikan karena semua itu akan menjadikan penunjang petani dalam peningkatan produktifitas gabah seperti hal nya infrastruktur, teknologi pertanian, dukungan sarana produksi, jamina pasar dan harus adanya perlindungan terhadap para petani yang berperan sebagai produsen pertanian. Bahkan, pemerintah seharusnya menyediakan pilihan alternatif ketika pertanian sudah tidak bisa diharapkan seperti misalnya hama wereng yang menyerang.
Perlu keseimbangan antara harga sarana produksi pertanian dengan penjualan hasil pertaian, sehingga petani masih memiliki keuntungan, jangan sampai harga sarana produksi pertanian malah lebih mahal dari pada harga jual seperti yang selama ini terjadi. Semoga tahun 2011 menjadi kebangkitan Petani Indonesia.
Oleh : Wahyu W *
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Subang.